Jumat, 12 Juni 2020

LAPORAN ANALISIS KEMAMPUAN LITERASI DIGITAL PADA TENAGA PENDIDIK TINGKAT SEKOLAH DASAR DI KABUPATEN BOGOR

LAPORAN ANALISIS KEMAMPUAN LITERASI DIGITAL PADA TENAGA PENDIDIK TINGKAT SEKOLAH DASAR DI KABUPATEN BOGOR

Ditujukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Sistem Infomasi Manajemen yang diampu oleh Ibu Hana Lestari, M.Pd

Rinawati (1920.04.007)
Program Studi Manajemen Pendidikan Islam
Fakultas Ilmu Tarbiyah Dan Keguruan
Institut Agama Islam Sahid Bogor

ABSTRACT:
This study aims to analyze the ability of digital literacy in teaching staff at the elementary school level in Bogor Regency. This study uses a qualitative method with research subjects at the elementary school level teachers in Bogor Regency. Data collection techniques are done by indirect communication (through social media) and observation. Data collection uses a digital questionnaire sheet created through Google forms that can be distributed by publishing links. The results showed that the level of digital literacy skills of elementary school teachers in Bogor Regency was classified as high in the indicator of ability to operate MS. Word, MS. Excel, MS. Power Point (80%), interest in computers to be used as learning aids (90%) , information search by visiting internet sites (70%), information search through search engines (80%), use of WhatsApp as a medium to convey information related to the learning process (100%), smartphone / android is a technological tool that makes it easy to search for information or online learning activities (90%), and Smartphones / Android as technology tools that are frequently used (100%). The level of digital literacy skills of elementary school teachers in Bogor Regency is classified as being an indicator of the ability to operate a computer (60%), the use of digital books as learning media (40%), an understanding of the functions and ways to create a blog (50%), and the experience of writing work. which is presented in a blog (40%). The level of digital literacy skills of elementary school teachers in Bogor Regency is relatively low in the indicator of the use of digital applications supporting learning (30%). Based on the results obtained it can be concluded that the level of digital literacy skills of elementary school teachers in Bogor Regency is classified as high level.

Keywords: Digital Literacy, Elementary Teachers
ABSTRAK :
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kemampuan literasi digital pada tenaga pendidik tingkat Sekolah Dasar di Kabupaten Bogor. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan subjek penelitian Guru tingkat Sekolah Dasar di Kabupaten Bogor. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan komunikasi tidak langsung (melalui media sosial) dan observasi. Pengumpulan data menggunakan lembar angket digital yang dibuat melalui google form yang bisa disebar dengan mempublish link. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kemampuan literasi digital para guru SD di Kabupaten Bogor tergolong tinggi pada indikator kemampuan dalam mengoperasikan MS.Word, MS.Excel, MS.Power Point (80%), ketertarikan pada komputer untuk dijadikan alat bantu pembelajaran (90%), pencarian informasi dengan mengunjungi situs internet (70%), pencarian informasi melaui search engine (80%), penggunaan WhatsApp sebagai media untuk menyampaikan informasi terkait proses pembelajaran (100%), smartphone/android merupakan alat teknologi yang memudahkan dalam melakukan pencarian informasi atau kegiatan pembelajaran online (90%), dan Smartphone/Android sebagai alat teknologi yang sering digunakan (100%). Tingkat kemampuan literasi digital para guru SD di Kabupaten Bogor tergolong sedang pada indikator kemampuan mengoperasikan komputer (60%), penggunaan buku digital sebagai media pembelajaran (40%), pemahaman mengenai fungsi dan cara membuat blog (50%), dan pengalaman pembuatan karya tulis yang disajikan dalam sebuah blog (40%). Tingkat kemampuan literasi digital para guru SD di Kabupaten Bogor tergolong rendah pada indicator penggunaan aplikasi digital penunjang pembelajaran (30%). Berdasarkan hasil yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa tingkat kemampuan literasi digital guru SD di Kabupaten Bogor tergolong tingkat tinggi.

Kata kunci : Literasi digital, Guru SD



PENDAHULUAN
Tantangan dunia pendidikan kini semakin berat dengan datang dan berkembangnya teknologi yang semakin besar. Seluruh peserta didik adalah generasi millenial yang mempunyai gaya hidup, perilaku, dan wawasan serta cita-cita yang berbeda dengan generasi para pendidik yang hampir semuanya kelahiran abad silam. Ini adalah tantangan yang sangat besar karena perbedaan paradigma antara generasi pendidik (guru dan dosen) dengan para peserta didik yaitu siswa dan mahasiswa.
Perbedaan ini dipengaruhi oleh kehadiran teknologi baru yaitu teknologi 4G dan 5G yang harus ditanamkan kebenak seluruh peserta didik agar menjadi manusia yang mampu mengikuti perkembangan teknologi dan mampu memanfaatkan untuk kehidupannya. Hal ini penting mengingat para pakar banyak yang meyakini akan muncul puluhan jenis pekerjaan yang segera hilang digantikan oleh teknologi baru atau lapangan pekerjaan yang biasanya padat karya tidak lagi memerlukan karyawan dalam jumlah besar karena berbagai bentuk efisiensi akibat kehadiran teknologi baru. Bahkan menurut beberapa pakar meyakini bahwa 10 sampai 15 tahun ke depan universitas di Amerika akan hilang paling tidak setengah dari jumlah yang ada karena munculnya inovasi seperti  MOOCs (Massive online open courses).
Menyadari hal itu, maka penulis membuat analisis mengenai kemampuan literasi digital pada tenaga pendidik tingkat sekolah dasar dengan sampel para guru di kabupaten Bogor untuk melihat dan dapat mengukur tingkat kecakapan di bidang teknologi para pendidik di Indonesia, khususnya para pendidik tingkat Sekolah Dasar.

METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan subjek penelitian Guru tingkat Sekolah Dasar di Kabupaten Bogor.Teknik pengumpulan data dilakukan dengan komunikasi tidak langsung (melalui media sosial) dan observasi. Pengumpulan data menggunakan lembar angket digital yang dibuat melalui google form yang bisa disebar dengan mempublish link. Penelitian ini dilakukan pada tanggal 5 – 10 Juni 2020.

HASIL DAN PEMBAHASAN
Literasi digital adalah pengetahuan dan kecakapan untuk menggunakan media digital, alat-alat komunikasi, atau jaringan dalam menemukan, mengevaluasi, menggunakan, membuat informasi, dan memanfaatkannya secara sehat, bijak, cerdas, cermat, tepat, dan patuh hukum dalam rangka membina komunikasi dan interaksi dalam kehidupan sehari-hari.  Literasi digital juga merupakan kemampuan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) untuk mengkomunikasikan konten/informasi dengan kecakapan kognitif dan teknikal.  Digital literasi lebih cenderung pada hal hal yang terkait dengan keterampilan teknis dan berfokus pada aspek kognitif dan sosial emosional dalam dunia dan lingkungan digital. 

Elemen esensial untuk mengembangkan literasi digital:  
- Kultural,   yaitu  pemahaman  ragam   konteks   pengguna  dunia digital;
- Kognitif, yaitu daya pikir dalam menilai konten;
Konstruktif, yaitu reka cipta sesuatu yang ahli dan aktual;
- Komunikatif, yaitu memahami kinerja jejaring dan komunikasi didunia digital;
- Kepercayaan diri yang bertanggung jawab;
- Kreatif, melakukan hal baru dengan cara baru;
- Kritis dalam menyikapi konten; dan bertanggungjawab secara sosial

Prinsip dasar pengembangan literasi digital :
  • Pemahaman untuk mengekstrak ide secara eksplisit dan implisit dari media
  • Saling ketergantungan antara media yang satu dengan media yang lain
  • Faktor sosial menentukan keberhasilan jangka panjang media yang membentuk ekosistem organik untuk mencari informasi, berbagi informasi, menyimpan informasi dan akhirnya membentuk ulang media itu sendiri.
  • Kurasi atau kemampuan untuk menilai sebuah informasi, menyimpannya agar dapat di akses kembali. 
  • Faktor sosial menentukan keberhasilan jangka panjang media yang membentuk ekosistem organik untuk mencari informasi, berbagi informasi, menyimpan informasi dan akhirnya membentuk ulang media itu sendiri
  • Kurasi atau kemampuan untuk menilai sebuah informasi, menyimpannya agar dapat di akses kembali.
Kerangka literasi digital Indonesia:
  • Proteksi (safeguard), yaitu perlunya kesadaran atas keselamatan dan kenyamanan pengguna internet, yaitu perlindungan data pribadi, keamanan daring serta privasi individu dengan layanan teknologi enkripsi sebagai salah satu solusi yang disediakan.
  • Hak-hak (right), yaitu hak kebebasan berekspresi yang dilindungi, hak atas kekayaan intelektual, dan hak berserikat dan berkumpul
  • Pemberdayaan (empowerment), yaitu pemberdayaan internet untuk menghasilkan karya produktif, jurnalisme warga, dan kewirausahaan serta hal -hal terkait etika informasi

    Berikut adalah hasil penelitian yang telah dilakukan : 
1. Dari jawaban 10 orang Tenaga Pendidik/Guru (responden) tingkat Sekolah Dasar  mengenai pertanyaan No.1 (Apakah Bapak/Ibu dapat mengoperasikan komputer dengan baik ?) 
Jumlah jawaban :
Ya = 6 (60%)
Tidak = 4 (40%)
Berdasarkan hasil angket yang disebar diketahui bahwa para Guru tingkat SD di Kabupaten Bogor tergolong berada pada level sedang (60%) mengenai kemampuan mengoperasikan komputer, karena terdapat 4 dari 10 guru yang masih belum dapat mengoperasikan komputer dengan baik.

2. Dari jawaban 10 orang Tenaga Pendidik/Guru (responden) tingkat Sekolah Dasar  mengenai pertanyaan No.2 (Apakah Bapak/Ibu dapat mengoperasikan MS. Word, MS. Excel, dan MS. Power Point ? ) Jumlah jawaban :
Ya = 8 (80%)
Tidak = 2 (20%)
Berdasarkan hasil angket yang disebar diketahui bahwa para Guru tingkat SD di Kabupaten Bogor tergolong berada pada level tinggi (80%) mengenai kemampuan dalam mengoperasikan MS.Word, MS.Excel, MS.Power Point, namun masih ada 2 orang guru yang tidak dapat mengoperasikan MS.Word, MS.Excel, MS.Power Point.

3. Dari jawaban 10 orang Tenaga Pendidik/Guru (responden) tingkat Sekolah Dasar  mengenai pertanyaan No.3 (Apakah Bapak/Ibu menggunakan aplikasi digital seperti classroom atau edmodo sebagai salah satu akses kegiatan belajar mengajar ?)
Jumlah jawaban :
Ya = 3 (30%)
Tidak   = 7 (70%)
Berdasarkan hasil angket yang disebar diketahui bahwa para Guru tingkat SD di Kabupaten Bogor tergolong berada pada level rendah (30%) dalam hal penggunaan aplikasi digital penunjang pembelajaran, hal ini dikarenakan masih ada 7 orang dari 10 guru yang belum/tidak menggunakan aplikasi digital dalam pembelajaran.

4. Dari jawaban 10 orang Tenaga Pendidik/Guru (responden) tingkat Sekolah Dasar  mengenai pertanyaan No.4 (Apakah Bapak/Ibu menggunakan buku digital sebagai media pembelajaran ?)
Jumlah jawaban :
Ya = 4 (40%)
Tidak    = 6 (60%)
Berdasarkan hasil angket yang disebar diketahui bahwa para Guru tingkat SD di Kabupaten Bogor tergolong berada pada level sedang (40%) dalam hal penggunaan buku digital sebagai media pembelajaran, hal ini dikarenakan masih ada 6 orang dari 10 guru yang belum/tidak menggunakan buku digital sebagai media pembelajaran. 

5. Dari jawaban 10 orang Tenaga Pendidik/Guru (responden) tingkat Sekolah Dasar  mengenai pertanyaan No.5 (Apakah Bapak/Ibu tertarik bila komputer digunakan sebagai alat bantu pembelajaran ?) 
Jumlah jawaban :
Tertarik  = 9 (90%)
Tidak tertarik = 1 (10%)
Berdasarkan hasil angket yang disebar diketahui bahwa para Guru tingkat SD di Kabupaten Bogor tergolong berada pada level tinggi (90%) mengenai ketertarikan pada komputer untuk dijadikan alat bantu pembelajaran, meskipun ada 1 dari 10 orang yang tidak tertarik pada komputer untuk dijadikan alat bantu pembelajaran. 

6. Dari jawaban 10 orang Tenaga Pendidik/Guru (responden) tingkat Sekolah Dasar  mengenai pertanyaan No.6 (Ketika memerlukan Informasi atau bahan ajar (materi), Bapak/Ibu lebih sering mengunjungi situs internet atau mencari dan membaca di buku  teks ?) 
Jumlah jawaban :
Mengunjungi situs internet = 7 (70%)
Mencari dan membaca di buku = 3 (30%)
Berdasarkan hasil angket yang disebar diketahui bahwa para Guru tingkat SD di Kabupaten Bogor tergolong berada pada level tinggi (70%) mengenai pencarian informasi dengan mengunjungi situs internet, dan terdapat 3 orang dari 10 orang guru yang menggunakan buku sebagai sumber informasi. 

7. Dari jawaban 10 orang Tenaga Pendidik/Guru (responden) tingkat Sekolah Dasar  mengenai pertanyaan No.7 (Apakah Bapak/Ibu melakukan pencarian informasi melalui search engine seperti menggunakan salah satu media digital seperti Yahoo, Google, UC browser,  Opera Mini atau lainnya ?
Jumlah jawaban :
Ya = 8 (80%)
Tidak = 2 (20%)
Berdasarkan hasil angket yang disebar diketahui bahwa para Guru tingkat SD di Kabupaten Bogor tergolong berada pada level tinggi (80%) mengenai pencarian informasi melaui search engine, namun masih ada 2 dari 10 orang guru yang belum/tidak melakukan pencarian informasi melalui search engine.

8. Dari jawaban 10 orang Tenaga Pendidik/Guru (responden) tingkat Sekolah Dasar  mengenai pertanyaan No.8 (Apakah Bapak/Ibu menggunakan WhatsApp sebagai media untuk menyampaikan informasi ?)
Jumlah jawaban :
Ya = 10 (100%)
Tidak = 0
Berdasarkan hasil angket yang disebar diketahui bahwa para Guru tingkat SD di Kabupaten Bogor tergolong berada pada level tinggi (100%) dalam hal penggunaan WhatsApp sebagai media untuk menyampaikan informasi terkait proses pembelajaran, hal ini berarti bahwa semua guru di Kabupaten Bogor sudah menggunakan WhatsApp sebagai media penyampaian informasi.

9. Dari jawaban 10 orang Tenaga Pendidik/Guru (responden) tingkat Sekolah Dasar  mengenai pertanyaan No.9 (Apakah Bapak/Ibu memahami cara membuat blog dan fungsinya ?)
Jumlah jawaban :
Ya         = 5 (50%)
Tidak = 5 (50%)
Berdasarkan hasil angket yang disebar diketahui bahwa para Guru tingkat SD di Kabupaten Bogor tergolong berada pada level sedang (50%) dalam hal pemahaman mengenai fungsi dan cara membuat blog. Dalam hal ini terlihat bahwa para guru di kabupaten Bogor masih ada yang belum memahami fungsi dan cara membuat blog dan sebagian lagi sudah memahami. 

10. Dari jawaban 10 orang Tenaga Pendidik/Guru (responden) tingkat Sekolah Dasar  mengenai pertanyaan No.10 (Apakah Bapak/Ibu pernah membuat karya tulis yang disajikan dalam sebuah blog ?)
Jumlah jawaban :
Ya         = 4 (40%)
Tidak = 6 (60%)
Berdasarkan hasil angket yang disebar diketahui bahwa para Guru tingkat SD di Kabupaten Bogor tergolong berada pada level sedang (40%) mengenai pengalaman pembuatan karya tulis yang disajikan dalam sebuah blog, hal ini dikarenakan masih ada 6 dari  10 guru yang tidak pernah menyajikan karya tulis di dalam sebuah blog.

11. Dari jawaban 10 orang Tenaga Pendidik/Guru (responden) tingkat Sekolah Dasar  mengenai pertanyaan No.11 (Menurut Bapak/Ibu, alat teknologi manakah yang memudahkan dalam melakukan pencarian informasi atau kegiatan pembelajaran online ?)
Jumlah jawaban :
Komputer/Laptop = 1 (10%)
Smartphone/Android = 9 (90%)
Berdasarkan hasil angket yang disebar diketahui bahwa menurut 9 dari 10 (90%) Guru tingkat SD di Kabupaten Bogor smartphone/android merupakan alat teknologi yang memudahkan dalam melakukan pencarian informasi atau kegiatan pembelajaran online, namun ada 1 dari 10 (10%) guru yang menyatakan bahwa komputer adalah alat yang memudahkan dalam melakukan pencarian informasi atau kegiatan pembelajaran online. 

12. Dari jawaban 10 orang Tenaga Pendidik/Guru (responden) tingkat Sekolah Dasar  mengenai pertanyaan No.12 (Alat teknologi informasi manakah yang sering Bapak/Ibu gunakan ?)
Jumlah jawaban :
Komputer/Laptop = 0 
Smartphone/Android = 10 (100%)
Berdasarkan hasil angket yang disebar diketahui bahwa para Guru tingkat SD di Kabupaten Bogor tergolong berada pada level tinggi (100%) mengenai Smartphone/Android sebagai alat teknologi yang sering digunakan. 


Dari hasil analisis di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa para guru di kabupaten Bogor rata – rata memiliki kemampuan mengoperasikan komputer dengan baik, dan hampir semua guru tertarik bila komputer dijadikan sebagai media pembelajaran. Sebagian besar guru di kabupaten Bogor lebih banyak mengunjungi situs internet dengan melalui search engine  daripada membaca buku untuk mendapatkan informasi. Untuk media penyampaian informasi semua guru sudah memakai aplikasi WhatsApp yang notabene nya sudah menjadi kebutuhan dan tuntutan zaman di Era ini. Di Era ini para guru di Kabupaten Bogor memilih menggunakan Smartphone/Android sebagai alat untuk menunjang pembelajaran, karena memang smartphone/android ini sangat fleksibel untuk dijadikan alat penunjang pembelajaran. Namun sangat disayangkan para guru di Kabupaten Bogor tidak memanfaatkan aplikasi dan buku digital sebagai alat penunjang pembelajaran yang sebenarnya baik untuk digunakan sebagai penambah wawasan mengenai dunia digital dan pengasah keterampilan di Era digital. Berdasarkan hasil yang diperoleh dapat dispesifikasikan bahwa tingkat kemampuan literasi digital guru SD di Kabupaten Bogor tergolong tingkat tinggi.


KESIMPULAN DAN SARAN 
Literasi digital adalah pengetahuan dan kecakapan untuk menggunakan media digital, alat-alat komunikasi, atau jaringan dalam menemukan, mengevaluasi, menggunakan, membuat informasi, dan memanfaatkannya secara sehat, bijak, cerdas, cermat, tepat, dan patuh hukum dalam rangka membina komunikasi dan interaksi dalam kehidupan sehari-hari.  Literasi digital juga merupakan kemampuan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) untuk mengkomunikasikan konten/informasi dengan kecakapan kognitif dan teknikal.  Digital literasi lebih cenderung pada hal hal yang terkait dengan keterampilan teknis dan berfokus pada aspek kognitif dan sosial emosional dalam dunia dan lingkungan digital.  
Dari hasil analisis di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa para guru di kabupaten Bogor rata – rata memiliki kemampuan mengoperasikan komputer dengan baik, dan hampir semua guru tertarik bila komputer dijadikan sebagai media pembelajaran. Sebagian besar guru di kabupaten Bogor lebih banyak mengunjungi situs internet dengan melalui search engine  daripada membaca buku untuk mendapatkan informasi. Untuk media penyampaian informasi semua guru sudah memakai aplikasi WhatsApp yang notabene nya sudah menjadi kebutuhan dan tuntutan zaman di Era ini. Di Era ini para guru di Kabupaten Bogor memilih menggunakan Smartphone/Android sebagai alat untuk menunjang pembelajaran, karena memang smartphone/android ini sangat fleksibel untuk dijadikan alat penunjang pembelajaran. 
Berdasarkan hasil yang diperoleh dapat dispesifikasikan bahwa tingkat kemampuan literasi digital guru SD di Kabupaten Bogor tergolong tingkat tinggi.
Saran dari penulis adalah tingkatkan kemampuan literasi digital kita sebagai penambah wawasan dan penyeimbang keterampilan kita di Era yang serba digital ini, dengan cara selalu peka terhadap perkembangan teknologi melalui pembelajaran, pemahaman, pelatihan dan pembiasaan.

Jumat, 15 Mei 2020

LAPORAN HASIL ANALISIS EFEKTIFITAS PEMBELAJARAN JARAK JAUH (DARING/ONLINE) DI MASA PANDEMI COVID 19 MENURUT PARA GURU


EFEKTIFITAS PEMBELAJARAN JARAK JAUH (DARING/ONLINE) DI MASA PANDEMI COVID 19 MENURUT PARA GURU

Makalah ini ditujukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Sistem Informasi Manajemen
Dosen Pengampu : Hana Lestari, M.Pd

 

Oleh  :
Rinawati          1920.04.007

PROGRAM STUDI MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM SAHID BOGOR
2020

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kita, karena dengan izin-Nya penulis dapat menyelesaikan tugas Laporan Analisis dengan judul “Efektifitas Pembelajaran Jarak Jauh (Daring/Online) Di Masa Pandemi Covid 19 Menurut Para Guru”  ini dengan sebaik-baiknya.

Laporan ini penulis susun dengan maksimal dalam rangka memenuhi salah satu tugas mata kuliah Sistem Informasi Manajemen yang diampu oleh Ibu Hana Lestari, M.Pd. Untuk itu penulis menyampaikan banyak terima kasih kepada pihak yang telah berkontribusi dalam pembuatan Laporan ini.

Terlepas dari itu semua, penulis menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat, tata bahasanya maupun dari kelengkapan materi yang penulis buat. Oleh karena itu, dengan tangan terbuka penulis menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar penulis dapat memperbaiki makalah yang penulis buat ini.

Akhir kata penulis berharap semoga laporan ini dapat memberikan manfaat maupun inspirasi terhadap pembaca.

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .........................................................................................
DAFTAR ISI .......................................................................................................

BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah..................................................................................
B.     Rumusan Masalah...........................................................................................
C.     Tujuan Penulisan.............................................................................................

BAB II PEMBAHASAN
A.    Definisi Pembelajaran Sistem Daring/Online...................................................
B.     Keunggulan dan kelemahan Pembelajaran Daring/Online...............................

BAB III HASIL ANALISIS..................................................................................

BAB IV PENUTUP................................................................................................
A.    Kesimpulan........................................................................................................
B.    Saran..................................................................................................................

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Persebaran Pandemi Covid 19 yang massif di berbagai negara, memaksa kita untuk melihat kenyataan bahwa dunia sedang berubah. Kita bisa melihat bagaimana perubahan-perubahan di bidang teknologi, ekonomi, politik hingga pendidikan di tengah krisis akibat Covid-19.
Perubahan itu mengharuskan kita untuk bersiap diri, merespon dengan sikap dan tindakan sekaligus selalu belajar hal-hal baru. Indonesia tidak sendiri dalam mencari solusi bagi peserta didik agar tetap belajar dan terpenuhi hak pendidikannya.  Sampai  1 April 2020, UNESCO mencatat setidaknya  1,5 milyar anak usia sekolah yang terdamapk Covid 19 di 188 negara termasuk 60 jutaan diantaranya ada di negara kita.
Semua negara terdampak telah berupaya membuat kebijakan terbaiknya dalam menjaga kelanggengan layanan pendidkan. Indonesia juga menghadapi beberapa tantangan nyata yang harus segera dicarikan solusinya: (1) ketimpangan teknologi antara sekolah di kota besar dan daerah, (2) keterbatasan kompetensi guru dalam pemanfaatan aplikasi pembelajaran, (3) keterbatasan sumberdaya untuk pemanfaatan teknologi Pendidikan seperti internet dan kuota, (4) relasi guru-murid-orang tua dalam pembelajaran daring yang belum integral.
Pemberlakuan kebijakan physical distancing yang kemudian menjadi dasar pelaksanaan belajar dari rumah, dengan pemanfaatan teknologi informasi yang berlaku secara tiba-tiba, tidak jarang membuat pendidik dan siswa kaget termasuk orang tua bahkan semua orang yang berada dalam rumah.
Pembelajaran teknologi informasi memang sudah diberlakukan dalam beberapa tahun terakhir dalam sistem pendidikan di Indonesia. Namun, pembelajaran daring yang berlangsung sebagai kejutan dari pandemi Covid-19, membuat kaget hampir di semua lini, dari kabupaten/kota, provinsi, pusat bahkan dunia internasional.
Sebagai ujung tombak di level paling bawah suatu lembaga pendidikan, kepala sekolah dituntut untuk membuat keputusan cepat dalam merespon surat edaran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang mengharuskan sekolah untuk memberlakukan pembelajaran dari rumah.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apakah definisi pembelajaran sistem daring/online ?
2.      Apa kelebihan dan kekurangan sistem daring/online pada kegiatan pembelajaran ?
3.   Efektifkah  pembelajaran sistem daring diterapkan dalam pendidikan di Indonesia pada masa Covid 19 ini ?

C.    Tujuan Penulisan
1.      Menambah wawasan para pembaca mengenai definisi pembelajaran sistem daring/online
2.  Memberikan informasi kepada para pembaca terkait pencegahan manfaat, kelebihan, dan kekurangan sistem daring/online
3.    Mengetahui keefektifan penerapan pembelajaran sistem daring/online pada masa Pandemi Covid 19

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Definisi Pembelajaran Sistem Daring/Online
Pendidikan jarak jauh adalah pendidikan formal berbasis lembaga yang peserta didik dan instrukturnya berada di lokasi terpisah sehingga memerlukan sistem telekomunikasi interaktif untuk menghubungkan keduanya dan berbagai sumber daya yang diperlukan di dalamnya. Pembelajaran daring (online) merupakan bagian dari pendidikan jarak jauh yang secara khusus menggabungkan teknologi elektronika dan teknologi berbasis internet.
Kemajuan yang terjadi dalam dunia teknologi komunikasi dan informasi memunculkan peluang maupun tantangan baru dalam dunia pendidikan. Peluang baru yang muncul termasuk akses yang lebih luas terhadap konten multimedia yang lebih kaya, dan berkembangnya metode pembelajaran baru yang tidak lagi dibatasi oleh ruang dan waktu. Di sisi lain kemajuan teknologi dengan beragam inovasi digital yang terus berkembang juga menghadirkan tantangan baru bagi penyelenggara pendidikan untuk terus menyesuaikan infrastruktur pendidikan dengan teknologi baru tersebut.
Pendidikan jarak jauh bukan metode baru dalam sistem pendidikan. Metode pembelajaran ini telah digunakan di Amerika Serikat sejak tahun 1892 ketika Universitas Chicago meluncurkan program pembelajaran jarak jauh pertamanya untuk tingkat pendidikan tinggi. Metode pembelajaran jarak jauh terus berkembang dengan menggunakan beragam teknologi komunikasi dan informasi termasuk radiotelevisisatelit, dan internet.[3] Meluasnya penggunaan internet oleh publik di berbagai negara pada tahun 1996 menjadi suatu fenomena yang berkembang dan diikuti oleh kemunculan beragam konten digital di dalamnya.[4] Pada tahun yang sama, John Bourne mengembangkan Asychronous Learning Network Web yang merujuk kepada kemampuan untuk memberikan pendidikan kapan saja dan di mana saja melalui internet.

B.     Keunggulan dan kelemahan Pembelajaran Daring/Online

1.      Keunggulan dari metode pembelajaran Daring/Online antara lain:
  a. Proses pembelajaran dapat dilakukan tanpa dibatasi oleh keharusan pengajar dan peserta didik untuk berada di ruang dan waktu yang sama.
  b. Penggunaan teknologi komunikasi dan informasi sebagai media pembelajaran menimbulkan biaya yang lebih rendah baik bagi penyelenggara pendidikan jarak jauh maupun peserta didik.
  c. Materi ajar dan berbagai interaksi dalam bentuk tulisan yang dikemas secara digital memungkinkan peserta didik untuk dapat membaca kembali berulang-ulang informasi yang tercatat di dalamnya.

2.      Kelemahan dari metode pembelajaran Daring/Online antara lain:
  a.  Minimnya kontak langsung antara pengajar dan peserta didik memperlambat proses terbangunnya relasi sosial dan nilai-nilai yang menjadi tujuan dasar dari pendidikan
  b. Rendahnya kontrol terhadap proses pembelajaran sebagai impikasi dari cara belajar mandiri yang menjadi titik berat dari pendidikan jarak jauh.
  c. Keterbatasan teknologi komunikasi dan informasi yang tidak dapat menggantikan sepenuhnya proses komunikasi dan interaksi secara langsung yang terjadi dalam pendidikan konvensional.

BAB III
HASIL ANALISIS

1.      Dari jawaban 19 responden mengenai pertanyaan No.1
(Apakah sistem pembelajaran daring/online memudahkan Bapak/Ibu untuk tetap melaksanaan kegiatan pembelajaran di Masa Pandemi Covid 19 ini ? )
Jumlah jawaban :
1.      Ya                   = 13
2.      Tidak                = 6
Hal ini menunjukan bahwa 68,4% merasa terbantu dengan adanya program pembelajaran sistem daring/online di masa Pandemi Covid 19 ini. Sedangkan 31,6% merasa tidak terbantu atau tidak merasa adanya kemudahan dengan adanya program pembelajaan sistem daring/online di masa Pandemi Covid 19 ini.

2.      Dari jawaban 19 responden mengenai pertanyaan No.2
(Apakah sistem pembelajaran daring/online memberikan dampak positif bagi Bapak/ibu ? ) Jumlah jawaban :
1.      Ya                    = 13
2.      Tidak               = 6
Hal ini menunjukkan bahwa 68,4% memberikan dampak positif bagi para guru. Sedangkan 31,6% responden merasa tidak ada dampak positif bagi guru.

3.      Dari jawaban 19 responden mengenai pertanyaan No.3
(Apakah Bapak/Ibu menguasai perangkat - perangkat teknlogi penunjang kegiatan belajar mengajar (seperti aplikasi pembelajaran pada smartphone) ?)
Jumlah jawaban :
1.      Ya                  = 18
2.      Tidak              = 1
Hal ini menunjukkan bahwa 94,7% responden yang tak lain adalah para guru – guru sudah menguasai perangkat – perangkat teknologi penunjang kegiatan pembelajaran pada sistem daring/ online (tidak gaptek). Sedangkan 5,3% responden tidak menguasai perangkat – perangkat teknologi penunjang pembelajaran daring/online (gaptek).

4.      Dari jawaban 19 responden mengenai pertanyaan No.4
(Adakah kesulitan saat proses melakukan kegiatan pengajaran ?)
Jumlah jawaban :  
1.      Ada                = 18
2.      Tidak ada        = 1
Hal ini menunjukkan 94,7% responden mengaku adanya kesulitan – kesulitan dalam proses melakukan kegiatan pengajaran pada sistem daring/online. Sedangkan 5,3% responden menjawab tidak ada kesulitan dalam melakukan kegiata pengajaran pada sistem daring/online.

5.      Dari jawaban 19 responden mengenai pertanyaan No.5
(Apakah Bapak/Ibu menerapkan sistem pembelajaran daring/online pada peserta didik ?) Jumlah jawaban :
1.      Ya                   = 18
2.      Tidak               = 1
Hal ini menunjukkan bahwa 94,7% responden menerapkan sistem pembelajaran daring/online pada peserta didik. Sedangkan 5,3% responden tidak menerapkan sistem pembelajaran daring/online pada peserta didik.

6.      Dari jawaban 19 responden mengenai pertanyaan No.6
(Apakah Bapak/Ibu termotivasi dengan adanya sistem pembelajaran daring/online untuk menerapkannya juga pada kegiatan belajar mengajar di Masa Normal ?)
Jumlah jawaban :
1.      Ya                   = 8
2.      Tidak               = 11
Hal ini menunjukkan bahwa 42,1% responden termotivasi untuk menerapkan sistem daring/online pada KBM di masa normal. Sedangkan 57,9% responden tidak termotivasi untuk menerapkan sistem daring/online di masa normal.

Dari hasil analisis di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa kebanyakan para guru mendapat kemudahan dengan diadakannya sistem daring/online sebagai perangkat pembelajaran  di masa Pandemi Covid 19 ini. Meskipun dalam pelaksanaan pembelajaran sistem daring/online ini juga terdapat kesulitan – kesulitan yang dihadapi oleh para guru. Sistem daring/online selain memberikan kemudahan dalam melakukan pembelajaran juga memberikan dampak positif kepada para guru.
Kegiatan pembelajaran sistem daring/online yang ditetapkan oleh Kemendikbud sebagai pengganti pembelajaran tatap muka dan sebagai usaha memutus rantai penyebaran Virus Covid 19 ini tidak memperlihatkan kendala dalam segi penguasaan perangkat – perangkat teknologi penunjang pembelajaran bagi para guru, karena faktanya para guru sudah menguasai perangkat – perangkat teknologi pembelajaran sistem daring/online, sehingga membuat para guru ikut melaksanakan himbauan Kemendikbud. Akan tetapi para guru tidak termotivasi untuk menerapkan pembelajaran sistem daring/online di masa normal. 

BAB IV
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Pendidikan jarak jauh adalah pendidikan formal berbasis lembaga yang peserta didik dan instrukturnya berada di lokasi terpisah sehingga memerlukan sistem telekomunikasi interaktif untuk menghubungkan keduanya dan berbagai sumber daya yang diperlukan di dalamnya. Pembelajaran daring (online) merupakan bagian dari pendidikan jarak jauh yang secara khusus menggabungkan teknologi elektronika dan teknologi berbasis internet.
Dari hasil analisis dapat ditarik kesimpulan bahwa kebanyakan para guru mendapat kemudahan dengan diadakannya sistem daring/online sebagai perangkat pembelajaran  di masa Pandemi Covid 19 ini. Meskipun dalam pelaksanaan pembelajaran sistem daring/online ini juga terdapat kesulitan – kesulitan yang dihadapi oleh para guru. Sistem daring/online selain memberikan kemudahan dalam melakukan pembelajaran juga memberikan dampak positif kepada para guru.
Kegiatan pembelajaran sistem daring/online yang ditetapkan oleh Kemendikbud sebagai pengganti pembelajaran tatap muka dan sebagai usaha memutus rantai penyebaran Virus Covid 19 ini tidak memperlihatkan kendala dalam segi penguasaan perangkat – perangkat teknologi penunjang pembelajaran bagi para guru, karena faktanya para guru sudah menguasai perangkat – perangkat teknologi pembelajaran sistem daring/online, sehingga membuat para guru ikut melaksanakan himbauan Kemendikbud. Akan tetapi para guru tidak termotivasi untuk menerapkan pembelajaran sistem daring/online di masa normal.

B.     Saran
sistem pembelajaran yang baik sebaiknya berorientasi pada keterampilan proses bukan pada nilai akhir berbasis angka semata. Pembelajaran di era milenial saat ini harus meningkatkan kreativitas peserta didik sesuau dengan perkembangan zaman. Terbukti dengan sistem pembelajaran daring yang saat ini berlangsung, banyak metode, ruang belajar dan produk pembelajaran kreatif yang merupakan hasil kolaboratif antara peserta didik dan guru sebagai pendidik.


   

LAPORAN ANALISIS KEMAMPUAN LITERASI DIGITAL PADA TENAGA PENDIDIK TINGKAT SEKOLAH DASAR DI KABUPATEN BOGOR

LAPORAN ANALISIS KEMAMPUAN LITERASI DIGITAL PADA TENAGA PENDIDIK TINGKAT SEKOLAH DASAR DI KABUPATEN BOGOR Ditujukan untuk memenuhi sala...